Sebut Usir Wartawan Jika Datang ke Desa, Ketua APDESI Garut Diduga Lecehkan Sejumlah Awak Media

Garut |
Ketua APDESI (Asosiasi Pemerintahan Desa Seluruh Indonesia) Kabupaten Garut berinisial AB diduga sangat anti dengan sejumlah wartawan, lantaran ucapannya yang dinilai melukai perasaan sejumlah insan media yang bertugas di wilayah Garut, Jawa Barat.

Beberapa wartawan, diantaranya Yohanes, Wahyu, Ajang dan Ujang mengaku kesal dan geram atas ulah AB yang menghina dan melecehkan profesi wartawan dengan ucapan-ucapannya yang dianggap tidak pantas.

Berdasarkan kesaksian yang mereka dapat, AB yang akrab disapa Is menyebutkan bahwa wartawan yang boleh berkunjung ke desa hanya yang memiliki ‘kartu biru’. Kartu biru yang dimaksud IS, diduga merupakan formasi kartu salah satu organisasi pers di Indonesia.

“Ditambah Is juga mengatakan apabila ada wartawan berkunjung ke desa hendaknya diusir oleh pihak desa. Juga pintunya di kunci agar wartawan tidak masuk, dan jika wartawan tetap ngotot masuk maka silahkan laporkan ke polisi,” ujar Yohanes, menirukan apa yang diucapkan oleh Is.

Merasa tidak terima dengan apa yang dilontarkan oleh Is, sejumlah awak media menuntut permintaan maaf dan akan menindaklanjuti permasalahan tersebut kepada pihak terkait, bahkan jika perlu melaporkan ke penegak hukum.

Selanjutnya Yohanes dan rekan-rekan melakukan upaya awal dengan melakukan pertemuan dengan Sekertaris Dinas Komunikasi dan Informatika (Sekdiskominfo) Kabupaten Garut guna mendiskusikan permasalahan ini.

Mendengar apa yang disampaikan oleh awak media, Sekdiskominfo menanggapi dengan mengatakan, bahwa adanya sikap yang lakukan oleh AB alias Is karena dilatarbelakangi kurangnya Sumber Daya Manusia (SDM). “Saya rasa itu karena kurang SDM,” ucapnya, dilansir saktimedianews.id, Rabu (5/7).

Kemudian sejumlah awak media yang sakit hati itu, kembali mengadukan permasalahan ini kepada Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat (Kesra) Kabupaten Garut Nurdin Yana.

Mereka meminta Nurdin agar dijembatani mediasi dengan pihak APDESI Garut, guna menuntut permohonan maaf atas perkataan yang diucapkan oleh Is.

Selanjutnya Nurdin memfasiltiasi tuntutan Yohanes dan kawan-kawan. Namun disayangkan, saat dilakukan mediasi Is tidak hadir lantaran dirinya akan dilantik di daerah selatan Garut sebagai Ketua APDESI.

Mediasi pun diwakili Ketua DPC Parade Nusantara Garut Teddy Rochendi, dan sejumlah Kepala Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) Kabupaten Garut.

Saat dilakukan mediasi, para wartawan meminta persoalan ini untuk segera diklarifikasi dan meminta Is segera membuat permohonan maaf di beberapa media lokal maupun nasional yang ada di Kabupaten Garut.

Melapor ke DPRD Kabupaten Garut

Sejumlah upaya terus dilakukan oleh Yohanes, Wahyu, Ajang Pendi, Ujang dan segenap wartawan di Garut atas sikap Is.

Mereka sempat mendatangi kantor gedung DPRD Kabupaten Garut dan sempat menemui Wakil Ketua DPRD Kabupaten Garut H Enan. Namun kembali disayangkan, H Enan yang diharapkan dapat mengakomodir tuntutan awak media malah mengembalikan permasalahan kepada Nurdin Yana.

Kepada media patroliborgol.com, Yohanes mewakili kawan-kawan menyampaikan akan terus memperjuangkan dan menutut agar persoalan ini diselesaikan hingga tuntas.

Menurutnya, jika dilihat dari Undang-Undang (UU) Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers, sikap AB alias Is bisa dikategorikan menghalang-halangi tugas wartawan, bahkan ada unsur penghinaan dan pelecehan.

“Atas pernyataannya, Is bisa dikenakan dengan pasal menghalangi tugas wartawan, dengan hukuman kurungan 2 tahun atau dikenakan denda sebesar Rp500 juta,” pungkasnya.

Pers atau wartawan, sambungnya, adalah Pilar Ke 4 demokrasi setelah Eksekutif Legislatif dan Yudikatif. Oleh karena itu, dalam menjalankan tugas profesinya wartawan mutlak mendapat perlindungan hukum dari negara, masyarakat, dan perusahaan pers.

Yohanes dan rekan-rekan mengaku sangat menyayangkan atas sikap Is yang merupakan sosok ketua sebuah asosiasi yang bermartabat dan terhormat di Garut, seharusnya bisa bersinerji dan bekerjasama dengan awak media.

Sampai berita ini diturunkan, para wartawan masih menunggu adanya klarifikasi dari Is dan penyelesaian dari berbagai pihak terkait, dengan harapan menjadi pembelajaran supaya tidak terjadi lagi dimasa mendatang. (Ags/Foto: Ist.)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *