Bersih-Bersih di Tubuh Polri, PSPI Siap Jadi Mata dan Telinga Kapolri

Jakarta, Patroli-
Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo melakukan bersih-bersih terhadap anggota Polri yang terlibat dalam kasus pembunuhan Brigadir Yosua Hutabarat atau Brigadir J.

Sejak awal penanganan kasus, Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo dengan tegas menyatakan komitmen akan mencopot jika ditemukan ada anggota yang berperilaku menyimpang. Menanggapi hal tersebut beberapa kalangan diantaranya Sahabat Polisi Indonesia (PSPI) sangat mengapresiasi langkah yang diambil Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo.

Sekretaris Jenderal (Sekjen) Dewan Pembina Perhimpunan Sahabat Polisi Indonesia (PSPI) Puguh Wirawan menyampaikan, bahwa komitmen Kapolri tersebut memang sangat dibutuhkan dalam menjaga marwah institusi dan integritas Korps Bhayangkara.

”Sekarang ini menjadi momentum baik untuk menyatukan kembali barisan Polri yang profesional, menjunjung tinggi aturan dan Polri yang dicintai masyarakat,” ujarnya kepada awak media di Jakarta, Sabtu (17/9).

Dirinya meyakini apa yang dilakukan Kapolri semata-mata demi menjaga integritas Polri kedepan dan seterusnya. ”Tidak hanya menjaga kemaslahatan bangsa dan negara, beliau (Kapolri) tentunya juga sayang terhadap jajarannya yang baik-baik,” ucap Puguh.

Ia pun mengutip apa yang disampaikan Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo di media massa, bahwa sanksi tegas pencopotan yang diberikan karena tidak ingin masalah yang sudah terjadi agar tidak terulang di tubuh Polri.

”Seperti yang beliau sebutkan di media, beliau itu sayang terhadap 430 ribu anggota polisi yang telah bekerja dengan baik, dan 30 ribu Pegawai Negeri Sipil (PNS) Polri yang juga bekerja dengan baik,” tutur pria dengan nama gelar lengkap Puguh Wirawan, SH.,MH.

Oleh karena itu, lanjut Puguh, pihaknya sangat mengapresiasi dan akan terus mendukung upaya dan langkah yang diterapkan oleh mantan Kabareskrim Polri tersebut.

”Kami di PSPI juga sangat apresiasi dan mendukung upaya Pak Kapolri. Kami juga sayang terhadap Polri, makanya kami pun siap membantu dan bersedia menjadi mata dan telinga pak Kapolri agar harapan menjadikan Polri yang PRESISI yang beliau usung supaya tetap terjaga,” tandas Sekjen Dewan Pembina PSPI itu.

Perubahan Kultural di Tubuh Polri

Senada dengan Puguh Wirawan, Praktisi Hukum sekaligus Pemerhati Media Adhitya Yulwansyah turut mengapresiasi ketegasan Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo dalam upaya melakukan bersih-bersih di tubuh Polri.

Menurutnya memang sejak beberapa waktu terakhir ini institusi Bhayangkara mendapat sorotan tajam dari publik, beberapa diantaranya berpandangan negatif, isu miring, serta pro dan kontra mewarnai pemberitaan.

”Dampak dari ketegasan Kapolri, kepercayaan publik yang saya rasa sempat tergerus kini mulai tampak terbangun kembali setelah beliau mengambil sikap tegas, diantaranya dengan menetapkan tersangka terhadap perwira-perwira di jajaran Polri yang diduga terlibat kasus pembunuhan Brigadir J,” kata Adhitya.

Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo, lanjutnya, menegaskan komitmen melakukan reformasi kultural di Korps Bhayangkara dengan meminta kepada seluruh anggota untuk selalu menanamkan tiga kompetensi, yakni teknis, leadership (kepemimpinan) dan etika.

”Harapan saya, komitmen yang diusung Kapolri ini bisa menciptakan perubahan kultural di tubuh Polri untuk menjadi lebih baik sebagaimana yang diharapkan dan diinginkan masyarakat kita,” ucapnya.

Menurut pria dengan nama dan gelar lengkap Adhitya Yulwansyah, SH.,MH tersebut, sesuai mandat Pasal 13 Undang-Undang (UU) Nomor 2 Tahun 2002 tentang Polri dituntut untuk mampu menciptakan keamanan dan ketertiban serta keadilan di tengah-tengah masyarakat.

”Kami masyarakat sangat mencintai Polri yang profesional. Makanya pada momentum bersih-bersih yang dilakukan Kapolri diharapkan Polri bisa menyelesaikan apapun permasalahan yang sedang terjadi (kasus pembunuhan Brigadir J) dengan profesional dan transparan,” pungkasnya.

Sebelumnya peristiwa penembakan terhadap Birgadir J sempat mendapat perhatian langsung dari Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan meminta Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo bergerak cepat dengan membentuk Tim Khusus agar kasus tersebut segera terungkap.

Kapolri kemudian memutuskan untuk berkolaborasi dengan dua institusi lain, yakni Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) dan Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas).

Dalam penanganan kasus tersebut, Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo mengedepankan scientific crime investigation (SCI) atau penyidikan berbasis ilmiah dan Tim Khusus bentukan Kapolri untuk melakukan penyidikan secara pro justicia agar fakta kematian Brigadir J bisa terungkap. (Ags/Foto: Dok./Ist.)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *