Pentingnya Fasilitas Digital untuk Masa Depan Ciampea dan Kabupaten Bogor

Oleh: Tubagus Hendi

Internet merupakan kebutuhan yang tidak terpisahkan dari kehidupan masa kini. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), pengguna internet di Jabar meningkat 27% selama periode 2017-2021. Peningkatan terbesar berasal dari perkotaan, 76%. Penambahan pengguna internet dari pedesaan berjumlah 24%.

Selain itu, pandemi Covid-19 semakin memperlihatkan betapa vitalnya peran internet. Keterbatasan gerak menyebabkan peningkatan aktivitas masyarakat di dunia maya. Berdasarkan temuan dari Google, Temasek, dan Bain & Company (2021), konsumen baru yang berbelanja melalui e-commerce meningkat 47% selama pandemi.

Sebelum pandemi, persentase masyarakat berusia 5-24 tahun yang menggunakan internet meningkat dalam empat tahun terakhir, dari 33,98% ke 59,3%. Seperempat dari populasi pengguna internet di Indonesia adalah anak-anak dan remaja.

Dapat diperkirakan adanya peningkatan pengguna internet di kalangan anak-anak dan remaja selama masa pandemi akibat kebijakan belajar dari rumah (BDR). Peningkatan aktivitas secara daring selama masa pandemi ini semakin memperkuat urgensi peningkatan digital literasi bagi masyarakat.

Apa Itu Literasi Digital?

Tidak hanya mencakup kemampuan mengoperasikan gawai pintar dan internet, literasi digital adalah kemampuan untuk memahami, mengevaluasi, dan menggunakan informasi yang didapat melalui berbagai sumber digital secara bertanggung jawab. Tingginya jumlah pengguna internet di Kabupaten Bogor, sayangnya, tidak diimbangi kemampuan literasi digital yang mumpuni.

Berdasarkan data dari Economist Intelligence Unit 2021, Jabar berada di peringkat 2 dari 37 Provinsi terkait dengan kesiapan menggunakan internet. Posisi Kab. Bogor lebih rendah dan tertinggal cukup jauh dari Kota kota Lain.

Mengapa Literasi Digital Rendah?

Kemampuan literasi digital sangat dipengaruhi oleh kemampuan literasi baca tulis, yakni kemampuan membaca, menulis, mencari, menganalisis, mengolah dan membagikan teks tertulis. Sayangnya, performa Indonesia di bidang literasi baca tulis termasuk rendah. Berdasarkan hasil dari survei Programme for International Students Assessment (PISA) 2019, Indonesia menempati peringkat 71 dari 79 negara.

Dipaparkan bahwa hanya 30% peserta didik yang menunjukkan setidaknya kemampuan level 2 dibandingkan dengan 77% peserta didik di negara-negara anggota OECD (Organisation for Economic Co-operation and Development).

Di sisi lain, 70% orang dewasa di Kabupaten Bogor berada di level 1, bahkan di bawahnya dalam bidang literasi menurut LIPI 2019. Dua survei ini memperlihatkan bahwa meskipun mayoritas orang Kabupaten Bogor dapat memahami teks sederhana menggunakan kosakata dasar, mereka mengalami kesulitan untuk memahami dan secara kritis mengevaluasi teks yang panjang dan kompleks.

Salah satu faktor penyebab rendahnya literasi masyarakat Kabupaten Bogor adalah kurangnya penekanan pada keterampilan berpikir kritis sejak usia dini. Padahal, literasi digital perlu diasah sejak dari pendidikan dasar. Kurikulum Nasional 2013 mengamanatkan penerapan high order thinking skills (HOTS), tetapi tidak terintegrasi dengan baik atau diajarkan secara luas selama pelatihan guru di Indonesia (Ilyas, 2015).

Mata pelajaran teknologi informasi dan komunikasi (TIK) yang ada di sekolah-sekolah juga belum optimal dalam meningkatkan literasi digital. Faktanya, Peraturan Menteri Pendidikan Nomor 37/2016 tentang implementasi pembelajaran TIK lebih berfokus pada kemampuan peserta didik dalam mengoperasikan perangkat teknologi dan internet daripada kemampuan menganalisis dan memproses informasi yang didapat secara daring. Padahal, literasi digital merupakan salah satu kemampuan yang dibutuhkan di Abad 21.

Selain itu, Kabupaten Bogor memiliki tantangan struktural, yaitu ketimpangan akses internet antar daerah. Berdasarkan data dari BPS, persentase rumah tangga yang dapat mengakses internet tertinggi berada di Pulau Jawa dan lebih rendah di wilayah timur Indonesia. Persentase rumah tangga tertinggi yang mengakses internet ada di DKI Jakarta, 93,33%, dan terendah di Papua sebesar 31,31%.

Internet merupakan kawasan yang dinamis dan selalu berubah dan tidak dapat dimungkiri bahwa sektor pendidikan akan kesulitan untuk mengejar ketertinggalan. Untuk meningkatkan dinamisme pendidikan literasi digital, PC24 Telin hadir menjawab tantangan tersebut serta Kemendikbud dan Kemenag harus berkoordinasi dengan Kemenkominfo dan menjalin kemitraan dengan para ahli dari sektor swasta.

Sektor swasta telah terlibat dalam seminar publik dan talkshow melalui program Siberkreasi. Tetapi tidak dalam penyempurnaan kurikulum sekolah. Tenaga ahli eksternal ini dapat membantu pemerintah merumuskan indikator yang relevan untuk kurikulum literasi digital.

Peningkatan akses dan teknologi internet, terutama di daerah perdesaan di Kabupaten Bogor, harus tetap menjadi prioritas pemerintah Daerah untuk mengatasi kesenjangan digital dan membuka peluang bagi keluarga yang kurang beruntung. PC24 Telin bersama pemerintah berencana untuk melengkapi sekitar 12.000 desa dengan akses internet. Keterlibatan swasta yang selama ini dipertimbangkan harus didorong.

Kemendikbud dan Kemenag juga harus bekerja sama dengan sektor swasta Lebih jauh dari itu, terintegrasinya literasi digital dalam kurikulum pendidikan diharapkan dapat menciptakan generasi yang mau membaca, memahami masalah, dan bisa mencari solusi atas persoalan tersebut.

Derasnya arus informasi semakin tidak terbendung dan kita tidak bisa hanya bergantung pada sensor. Pada akhirnya sensor tersebut ada pada diri setiap orang karena setiap orang bertanggung jawab pada informasi yang dia terima masing-masing.

Dengan ini peran serta IDM (Internet desa Mandiri) adalah solusi yang tepat guna memenuhi era digitalisasi bagi masyarakat ciampea, Kabupaten Bogor, IDM yang disponsori oleh PC24 Telekomunikasi Indonesia akan berperan penting untuk kemajuan industri digital di kecamatan ciampea Kabupaten Bogor demi terciptanya masyarakat yang maju dan siap bersaing diera globalisasi.

Bojongrangkas, 16 Juli 2021

Leave a Reply