Program Samisade Diduga Tidak Tepat Sasaran, Forum RW Desa Bojongrangkas Bogor Surati Kades

Bogor, Patroli-
Pembangunan jembatan di Desa Bojongrangkas Kecamatan Ciampea Bogor, Jawa Barat, dinilai oleh masyarakat sekitar belum bersifat ‘darurat’.

Program Satu Miliar Satu Desa (Samisade) yang dicanangkan Bupati Bogor Ade Yasin pada pembangunan jembatan yang dibangun menuju akses wisata ke Waru Farm Land adalah obyek wisata yang justru bukan wisata yang ada di Desa Bojongrangkas melainkan ada di Desa Tegal Waru dirasa tidak tepat sasaran.

Disamping tidak dilakukan secara swakelola, sejumlah masyarakat menyatakan bahwa proyek yang memanfaatkan anggaran Program Samisade Tahun 2021 itu tidak melibatkan pengurus wilayah di lokasi pembangunan jembatan.

Hal itu dikemukakan oleh Forum Rukun Warga (RW) Desa Bojongrangkas, yang membuat surat tertulis kepada Kepala Desa (Kades) Bojongrangkas Iding Habudin guna menyampaikan keberatan dengan pelaksanaan pembangunan jembatan di desa mereka.

Para pengurus RW menyatakan bahwa pembangunan jembatan masih lemah dari analisa, disamping ada beberapa poin tidak sesuai dengan petunjuk teknis (juknis) dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bogor yang seharusnya berdasarkan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Desa (RPJM) atau Rencana Kerja Pemerintah Desa (RKPDes). Sehingga Badan Permusyawaratan Desa (BPD) didesak untuk melaksanakan musyawarah desa (musdes).

Ketua RW 08 Wahyudin menyampaikan, bahwa pembangunan jembatan belum sangat diperlukan. Menurutnya Program Samisade seharusnya bisa dilaksanakan di beberapa titik, misalkan diwilayahnya yang masih membutuhkan perbaikan.

“Di wilayah saya dibutuhkan perbaikan karena jika musim penghujan selalu banjir. Pembangunan jembatan saat ini bukan hal yang darurat,” katanya kepada awak media di Bogor, Jawa Barat, Kamis (5/8).

Bahkan Ketua RW 05 Roso mengaku, bahwa pembangunan jembatan yang berada di wilayahnya itu tidak pernah melibatkan dirinya selaku pihak pengurus lingkungan.

“Saya tidak pernah diajak diskusi, dan tidak ada ijin lingkungan. Tidak ada warga saya yang ikut bekerja di proyek pembangunan jembatan tersebut,” tuturnya.

Dikatakannya, Forum RW di Desa Bojongrangkas mengingatkan pentingnya musyawarah dan partisipasi publik untuk meningkatkan sinergitas pemerintah desa terhadap para RT/RW dan tokoh masyarakat.

“Pentingnya mendengar pendapat dan gagasan masyarakat agar pembangunan desa dapat terwujud dengan baik dan dapat mengakomodir kepentingan masyarakat sehingga transparansi dan informasi publik menjadi hak publik,” pungkasnya.

Kedepannya masyarakat berharap melalui Forum RW Desa Bojongrangkas agar Program Samisade tidak disalahgunakan dan dapat terlaksana dengan baik serta memenuhi harapan dan kebutuhan masyarakat.

Sementara itu, Kades Bojongrangkas Iding Habudin saat menggelar musdes di aula desa menuturkan bahwa pembangunan jembatan penting untuk menopang ekonomi masyarakat dan pariwisata serta dapat meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) desa sebesar 3,5 persen.

Dirinya meyakini pembangunan jembatan bisa diselesaikan dengan baik, sesuai dengan perjanjian yang sudah dibuat pihak kontraktor selaku pelaksana.

Menurutnya karena pekerjaan proyek dibutuhkan tenaga ahli maka pihak desa menunjuk Tim Pelaksana Kegiatan (TPK) untuk melaksanakan proyek tersebut.

“Saya yakin dan sudah membuat MOU dengan kontraktor bahwa jembatan bisa diselesaikan dengan baik. Persoalan ini tadinya cukup disosialisasikan saja karena waktu sudah mepet,” imbuhnya.

Perlu Kolaborasi

Sebelumnya Bupati Bogor Ade Yasin pernah mewanti-wanti kepada seluruh kades untuk serius dalam penggunaan bantuan anggaran Samisade. Ia tidak ingin hibah dari Pemkab Bogor disalahgunakan.

“Saya minta direncanakan dengan baik agar realisasinya tepat sasaran, berhasil guna dan bermanfaat bagi masyarakat dengan pengelolaan keuangan yang profesional dan transparan,” kata Bupati Ade, beberapa waktu lalu.

Politisi PPP ini menegaskan bahwa pembangunan di desa juga memerlukan kolaborasi agar terwujud keterpaduan antar pihak berkepentingan, seperti pemerintah pusat, provinsi, pemda, akademisi, dan unsur masyarakat desa. (Rumly/Haikel/Foto: Ilustrasi/Istimewa)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *