Perseteruan Otto dan Hotman, Advokat Tommy Tri Yunanto: Berikanlah Contoh yang Baik

Jakarta, Patroli-
Pengacara kondang Otto Hasibuan dan Hotman Paris diharapkan bisa menjadi contoh yang baik, bukan malah mempertontonkan sikap yang tidak patut dengan membawa perasaan berlebihan menyangkut perhelatan Masyawarah Nasional (Munas) Perhimpunan Advokat Indonesia (Peradi) belum lama ini.

Perseteruan keduanya diduga berawal kekecewaan Hotman setelah Otto menjabat Ketua Umum (Ketum) Peradi sebanyak tiga kali untuk periode 2020-2025.

Otto Hasibuan terpilih sebagai ketum menggantikan Fauzie Yusuf Hasibuan setelah mengalahkan dua calon lain, Ricardo Simanjuntak dan Charles Silalahi melalui Munas ke 3 di Pullman Hotel Bogor, Jawa Barat, pada 7 Oktober 2020 silam.

Hal ini tidak diamini oleh Hotman Paris, karena menurutnya dalam anggaran dasar yang disahkan di Munas, seseorang hanya boleh menjabat sebagai ketum Peradi sebanyak dua kali.

Jabatan Otto selama dua periode sebelumnya sempat terputus saat ketum Peradi dijabat Fauzie Yusuf Hasibuan di tahun 2015-2020. Maka dengan berbekal SK Nomor KEP.104/PERADI/DPN/IX/2019, Otto Hasibuan bisa maju lagi menahkodai Peradi.

Terkait permasalah yang kini heboh di jagat media sosial (medsos), Praktisi Hukum Tommy Tri Yunanto memberikan komentar dan pendapatnya kepada beberapa awak media di Jakarta.

Menurutnya peristiwa tersebut merupakan fenomena yang luar biasa, apalagi dua orang yang sedang berseteru tersebut merupakan tokoh-tokoh ternama nasional di dunia advokat.

“Kita melihat bahwa Bang Hotman dan Bang Otto sebenarnya adalah senior-senior yang perlu kita contoh, semoga mereka memberikan contoh yang baik,” katanya, di Jakarta, Selasa (10/5).

Diakui Tommy, selaku sesama advokat dirinya tidak ingin melihat sisi buruk peristiwa tersebut. Baginya dari semua yang terjadi harus bisa diambil hikmah dan masalah ini agar berakhir di meja perdamaian.

”Tidak ada perseteruan, kembali bersinergi, satu sama lain saling bahu membahu. Adanya kepentingan-kepentingan yang bersifat pribadi kita sampingkan, kita benahi dan kita junjung tinggi martabat advokat dan profesi,” katanya.

Dikatakannya, konflik dari kedua belah pihak tersebut tentunya sangat berdampak atau berimpact yang luar biasa kepada anggota-anggota advokat lainnya.

”Kita di sini mengambil satu hikmah, inti dari permasalahan ini menjadi suatu effort kita untuk menjadi lebih baik lagi. Saya sebagai praktisi hukum tetap semangat, tetap positif terhadap segala sesuatu yang terjadi di dalam dunia advokat baik itu terhadap kode etik maupun aturan-aturan yang berada di organisasi advokat itu sendiri. Kita harus patuhi dan menjunjung tinggi,” tuturnya.

Jika dilihat dua advokat senior tadi, lanjutnya, kemungkinan sudah lama tidak adanya saling interaksi, kemudian ada beberapa macam isu-isu yang sifatnya dalam organisasi dan bisa saja masuk ke dalam kepentingan-kepentingan pribadi artinya ada urusan pribadi.

”Kita tidak melihat dari situ, kita lihat bahwa organisasi advokat harus tetap berjalan sebagaimana mestinya organisasi advokat itu diterapkan di dalam kode etik advokat,” ujarnya.

Tommy juga mengatakan selebritas keduanya terbilang cukup tinggi dan sangat senior sehingga perseteruan tersebut menjadi heboh. Dirinya melihat hal tersebut merupakan suatu fenomena yang cukup baik.

Disebutkan Tommy, dilihatnya perseteruan ini dari sudut pandang yang positif, karena di negara manapun di dunia profesi advokat manapun mungkin juga ada terjadi konflik.

”Konflik ini bisa menjadikan kita tumbuh dan menjadikan kita membubuhkan suatu kebaikan-kebaikan sehingga aturan-aturan yang tadinya bersifat masih samar atau tidak berlaku atau harus diberlakukan dengan advokat lain menjadi satu bagian sehingga kita mempunyai kekuatan hukum yang tetap,” ucapnya.

”Kalau menurut saya sebagai praktisi hukum kita tetap suport, tetap optimis bahwa ke depan advokat-advokat yang lahir dari organisasi A, B, dan C tetap menjadi advokat yang qualified yang mempunyai sinergitas yang kuat saling bahu membahu tidak saling menjatuhkan. Itu pesan saya,” tambahnya.

Maka dari itu, pemilik nama dengan gelar lengkap Tommy Tri Yunanto, SH,.MH, itu berharap perseturuan ini bisa berakhir dengan perdamaian dan lebih baik lagi untuk menjadikan organisasi advokat yang menjunjung tinggi martabat, nilai keadvokatan dan profesi sebagai penegak hukum di Indonesia.

Ia juga mengemukakan, bahwa ada beberapa organisasi advokat yang sudah ada di Indonesia, yang awal mula tumbuhnya organisasi advokat adalah Peradi.

Menurutnya beberapa pimpinan dari Peradi sendiri ada yang mempunyai kebijakan terhadap masa kepemimpinan yaitu selama dua periode yang kemudian dituangkan ke dalam kode etik dunia advokat.

Dirinya menggarisbawahi, bahwa setiap organisasi tentunya mempunyai kebijakan maupun aturan yang intinya sudah diatur di dalam Anggaran Dasar-Anggaran Dasar Rumah Tangga (AD-ART).

”Kita melihat dari sisi yang sudah kita jalani ini memang untuk pimpinan umum Peradi itu untuk dua periode berturut-turut dan lepas dari itu harus turun dan digantikan bergulir dengan yang lain. Itu yang terjadi sekarang makanya banyak perbincangan yang menjadi pro dan kontra,” jelasnya.

Namun Tommy tidak menampik, bahwa setiap organisasi pastinya memiliki kebijakan atau mempunyai cara tersendiri dalam bagaimana mengatur ataupun menjalani organisasinya demi menempuh suatu mufakat untuk kebaikan bersama.

”Ini yang perlu kita hormati bagaimana mereka bisa bersinergi dengan antara organisasi satu dengan yang lainnya, di sini kita melihat itu dan bukan sebagai kendala ataupun penghambat kemudian menjadikan suatu konflik. Artinya kita tetap bersinergi, tetap menjadi advokat dengan dedikasi tinggi menjunjung tinggi keadilan,” ucapnya.

Wakil Pemimpin Umum Media Patroli itu menilai, suatu aturan dan keputusan mendasar yang bisa dipakai untuk menjadi acuan seharusnya yang bersifat nasional, atau berkekuatan hukum tetap.

”Bagaimana caranya supaya aturan ini dibuat agar semua organisasi advokat membuat suatu aturan yang bersinergi, berkekuatan hukum dan membuat suatu aturan yang lebih baik. Ini momentum paling baik terhadap fenomenal yang kita hadapi,” terangnya.

Sebagai penegak hukum, sambungnya, adalah bertugas memberikan masukan bagaimanakah aturan-aturan ini diterapkan, khususnya aturan dalam dunia advokat.

”Itu yang paling penting menurut saya. Karena di dalam Undang-Undang (UU) Kode Etik Advokat Nomor 13 Tahun 2008 sudah dijelaskan dari Pasal 26 Ayat 1 dan Pasal 25 Ayat 2, itu kita lihat bahwa kita junjung tinggi kode etik advokat, itu yang kita harapkan kedepannya,” papar Tommy.

”Lebih bijak kita melihat dari sudut pandang yang positif terhadap kasus ataupun fenomena ini. Semoga menjadi lebih baik, lebih bisa menjaga dan membawa marwah dari profesi advokat itu sendiri,” imbuhnya. (Ags/Foto: Ist.)

Leave a Reply