Pemerintah

Jakarta Tak Sekadar Bangun Smart City, JFCF 2026 Bidik Pemerataan Transformasi Digital

Jakarta – Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta mendorong transformasi digital pemerintahan tidak berhenti sebagai keunggulan kota besar. Melalui JAKI & Fellowship Cities Forum (JFCF) 2026, Jakarta ingin memperluas pertukaran teknologi, inovasi, dan pengalaman pengelolaan layanan publik hingga ke berbagai daerah di Indonesia.

Forum internasional bertema “Sharing Best Practices in Digital Transformation and Public Innovation” tersebut akan digelar secara hybrid pada 19–20 Agustus 2026 oleh Pemprov DKI Jakarta melalui Dinas Komunikasi, Informatika, dan Statistik (Diskominfotik) bersama Unit Pengelola Jakarta Smart City (JSC).

Kepala Diskominfotik DKI Jakarta Marulina Dewi mengatakan JFCF 2026 dirancang sebagai ruang kolaborasi antarpemerintah untuk membahas sekaligus berbagi praktik terbaik dalam transformasi digital dan inovasi pelayanan publik.

“Hari ini kami mengumumkan penyelenggaraan JAKI & Fellowship Cities Forum 2026. Forum ini menjadi ruang kolaborasi untuk berbagi praktik terbaik transformasi digital dan inovasi pelayanan publik antarpemerintah,” ujar Marulina di JSC Lounge, Balai Kota DKI Jakarta, Jumat (14/8/2026).

JFCF 2026 rencananya dibuka oleh Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung dan melibatkan kepala daerah se-Jabodetabek secara virtual.

Selama dua hari penyelenggaraan, forum tersebut akan menghadirkan 16 sesi diskusi, terdiri atas tujuh sesi luring dan sembilan sesi daring. Sekitar 3.000 peserta dari kementerian, pemerintah daerah, akademisi, industri, hingga masyarakat umum ditargetkan mengikuti rangkaian kegiatan.

Pendaftaran peserta JFCF 2026 dapat dilakukan melalui kanal resmi Jakarta Smart City.

Marulina menegaskan, transformasi digital saat ini bukan lagi sekadar pilihan, melainkan kebutuhan untuk membangun pelayanan publik yang cepat, transparan, dan responsif.

Karena itu, Jakarta ingin mengambil posisi sebagai penghubung kolaborasi agar manfaat inovasi digital tidak hanya terkonsentrasi di kota-kota besar.

“Jakarta ingin menjadi penghubung kolaborasi agar transformasi digital berkembang merata di seluruh Indonesia,” katanya.

Komitmen tersebut tidak hanya diwujudkan melalui pertukaran gagasan. Pemprov DKI Jakarta juga berencana membagikan City Data Platform dan Learning Management System secara gratis kepada pemerintah daerah mitra.

Kedua platform tersebut akan disertai pendampingan teknis agar pemerintah daerah penerima dapat menerapkannya secara optimal sesuai kebutuhan masing-masing.

“Kami tidak hanya berbagi pengalaman, tetapi juga menyediakan platform digital beserta pendampingannya agar manfaat transformasi digital dapat dirasakan lebih luas,” ujar Marulina.

JAKI dan AI Jadi Bagian Penguatan Layanan Publik

Di tengah agenda berbagi inovasi tersebut, Pemprov DKI Jakarta juga terus mengembangkan JAKI sebagai salah satu instrumen digital pelayanan publik.

Hingga Agustus 2026, aplikasi JAKI telah mencatat lebih dari 7,06 juta unduhan dengan 101 fitur layanan publik.

Pengembangan juga dilakukan terhadap sistem pengaduan Cepat Respon Masyarakat (CRM) melalui pemanfaatan teknologi kecerdasan artifisial atau Artificial Intelligence (AI), antara lain AI Image Detector dan AI Recapture Detection.

Teknologi tersebut digunakan untuk membantu memverifikasi keaslian foto yang disertakan dalam laporan masyarakat sehingga proses penanganan pengaduan dapat dilakukan secara lebih akurat.

“Kami terus mengembangkan JAKI, mulai dari integrasi Satu Data Jakarta, penambahan layanan publik, hingga pemanfaatan kecerdasan buatan untuk memastikan setiap laporan warga dapat diverifikasi dan ditindaklanjuti secara akurat,” tutur Marulina.

Sementara itu, Kepala Unit Pengelola Jakarta Smart City, Ponirin Ariadi Limbong, mengatakan minat pemerintah daerah dan perguruan tinggi untuk mempelajari penerapan konsep smart city di Jakarta terus meningkat.

Menurut Ponirin, kondisi tersebut menunjukkan kebutuhan terhadap ruang berbagi pengetahuan dan pengalaman antardaerah semakin besar. Karena itu, JFCF 2026 menghadirkan pakar transformasi digital, praktisi teknologi, kepala daerah, hingga perwakilan lembaga internasional.

“Setiap hari kami menerima kunjungan studi banding. Melalui forum ini, kami menghadirkan pakar transformasi digital, praktisi teknologi, kepala daerah, hingga perwakilan lembaga internasional untuk berbagi pengalaman,” ungkap Ponirin.

Pada hari kedua, JFCF 2026 juga akan menggelar forum khusus ASEAN Smart Cities Network (ASCN) yang mempertemukan sejumlah kota anggota di Indonesia, antara lain Makassar, Banyuwangi, Sumedang, Semarang, dan Denpasar.

Forum tersebut diharapkan tidak berhenti pada pertukaran pengetahuan, tetapi menghasilkan kerja sama dan langkah konkret dalam pemanfaatan kecerdasan artifisial, komunikasi digital, serta pengembangan mobilitas perkotaan yang lebih modern.

“Melalui forum ini kami berharap lahir kolaborasi dan langkah konkret dalam pemanfaatan kecerdasan artifisial, komunikasi digital, serta pengembangan mobilitas perkotaan yang lebih modern,” pungkas Ponirin.

Melalui JFCF 2026, Jakarta ingin menunjukkan bahwa pembangunan kota cerdas tidak semata-mata diukur dari banyaknya teknologi yang digunakan, tetapi dari sejauh mana inovasi tersebut dapat dibagikan, direplikasi, dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat di berbagai daerah.

Jakarta pun menempatkan diri bukan hanya sebagai pengguna teknologi dalam pelayanan publik, tetapi sebagai simpul kolaborasi transformasi digital Indonesia. (Red/Alz/Foto: Ist.)


Discover more from Patroli Borgol

Subscribe to get the latest posts sent to your email.

Leave a Reply

Discover more from Patroli Borgol

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading