Syahnagra Ismail Kolaborasi dengan Musisi Ibu Kota Hasilkan Karya Lagu “Cendrawasih”
Jakarta – Di tengah derasnya arus musik modern yang serba cepat dan instan, sebuah karya bernuansa alam dan kebudayaan Nusantara lahir dari perjumpaan lintas disiplin seni.
Pelukis senior Indonesia, Syahnagra Ismail, berkolaborasi dengan sejumlah musisi Ibu Kota menghadirkan lagu etnik berbahasa Jawa berjudul Cendrawasih, sebuah karya musikal yang tidak hanya menawarkan harmoni bunyi, tetapi juga menghadirkan lanskap batin, pengalaman perjalanan, dan refleksi mendalam tentang alam Indonesia.
Lagu tersebut memadukan lirik puitis, kekayaan rasa khas Nusantara, dan sentuhan aransemen etnik kontemporer yang dibangun dengan nuansa musikal modern. Di balik karya itu, tersimpan perjalanan panjang seorang seniman yang selama puluhan tahun menjelajahi berbagai sudut Indonesia, menyerap denyut budaya, suara alam, dan kehidupan masyarakat yang ditemuinya.
Lirik lagu Cendrawasih ditulis langsung oleh Syahnagra Ismail, sementara aransemen musik digarap Dika Rev, seorang gitaris Bachelor of Music lulusan Australian Institute of Music (AIM) Melbourne VIC, Australia, bersama para musisi yang tergabung dalam wadah Balai Budaya Musik (BBM).
Karya tersebut kemudian dibawakan oleh penyanyi sekaligus gitaris band Ruh, Bukhori. Sejumlah musisi lain turut memperkuat warna musikal lagu itu, di antaranya Abhy pada gitar, Hafidz pada drum, serta Fadil pada bass. Kolaborasi tersebut melahirkan komposisi musik yang terasa intim, hening, namun tetap memiliki daya emosional yang kuat.

Tak berhenti pada musik, proses kreatif Cendrawasih juga berkembang menjadi ruang kolaborasi seni visual. Video klip lagu tersebut diproduksi di Balai Budaya Jakarta dengan menghadirkan pelukis muda Ames Abadi sebagai model sekaligus representasi visual dalam karya tersebut.
Menariknya, Ames tidak hanya tampil di depan kamera, tetapi juga menuangkan interpretasinya terhadap lagu Cendrawasih melalui karya lukis abstrak yang diciptakan langsung saat proses pengambilan gambar berlangsung di kawasan Kebun Raya Bogor.
Melalui goresan pena yang spontan dan ekspresif di atas bidang kertas, Ames menghadirkan karya visual berjudul Perjumpaan di Hutan Bogor. Lukisan tersebut menjadi simbol pertemuan antara bunyi, warna, alam, dan pengalaman batin para seniman yang terlibat dalam proyek kreatif tersebut.
Dengan rampungnya video klip Cendrawasih, lahir pula sebuah karya visual yang menjadi bagian tak terpisahkan dari perjalanan artistik lagu tersebut. Lagu Cendrawasih sendiri telah ditayangkan perdana melalui kanal YouTube Ames Abadi pada Sabtu (9/5/2026).

Bagi Syahnagra Ismail, proses penciptaan lagu bukanlah sesuatu yang datang secara tiba-tiba. Lagu tersebut lahir dari perjalanan panjang hidupnya sebagai pelukis yang telah menjelajahi berbagai daerah di Indonesia, mulai dari Aceh hingga Papua.
Menurut alumnus Institut Kesenian Jakarta (IKJ) dan Akademi Seni Grafis Stockholm, Swedia itu, seorang pelukis sejatinya bukan hanya bekerja dengan warna dan kanvas, tetapi juga dengan pengalaman hidup, penghayatan budaya, dan kedekatan dengan alam.
“Saya sudah dari Aceh sampai Papua. Semua perjalanan itu menjadi karakter saya. Di mana saja saya bisa membuat syair dan puisi, lalu saya tuangkan dalam karya,” ujar Syahnagra saat ditemui awak media.
Inspirasi lagu Cendrawasih, lanjutnya, lahir ketika dirinya mengunjungi kawasan suku Asmat di Papua. Dalam perjalanan tersebut, ia mengalami sebuah momen yang membekas kuat dalam ingatannya.
Ia menceritakan, ketika duduk di ujung jembatan dengan hamparan sungai dan hutan di hadapannya, terdengar riuh suara burung menjelang senja. Namun suasana tiba-tiba berubah hening ketika seekor burung cendrawasih muncul dari balik rimbun pepohonan.
Bagi Syahnagra, momen itu bukan sekadar pengalaman visual, melainkan pengalaman spiritual yang menghadirkan kesadaran tentang kebesaran alam Papua.
“Ketika burung cendrawasih datang, suara burung lain seperti hilang. Dari situ saya merasa cendrawasih adalah simbol keagungan alam Papua,” ungkapnya.
Pengalaman tersebut kemudian menjadi fondasi emosional lahirnya lagu Cendrawasih. Syahnagra menegaskan bahwa seluruh lirik yang ditulisnya berasal dari pengalaman nyata, bukan sekadar hasil imajinasi atau reka cerita.
“Kalau saya tidak mengarang. Apa yang saya lihat, itu yang saya tulis,” tegasnya.
Pelukis yang pernah menggelar pameran retrospektif lima dekade berkarya bertajuk Painting Out Loud pada 2023 itu mengaku latar belakangnya sebagai seniman lukis sangat mempengaruhi cara dirinya menulis lirik.
Baginya, proses kreatif berjalan secara alami karena seluruh pengalaman perjalanan telah tersimpan kuat dalam memori dan emosinya selama bertahun-tahun menjelajahi Nusantara.
“Saya tinggal mengingat pengalaman yang pernah saya rasakan langsung,” katanya.
Meski demikian, Syahnagra menyadari bahwa setiap karya seni selalu memiliki tantangan tersendiri. Namun baginya, tantangan bukan sesuatu yang harus ditakuti, melainkan bagian dari perjalanan kreatif yang perlu dinikmati dengan tenang dan jujur.
Secara keseluruhan, lagu Cendrawasih menjadi refleksi personal Syahnagra terhadap keindahan alam Indonesia, khususnya Papua, yang kemudian diterjemahkan menjadi ungkapan rasa melalui musik, puisi, dan visual.
Lagu tersebut tidak hanya berbicara tentang burung cendrawasih sebagai simbol eksotis Papua, tetapi juga tentang hubungan manusia dengan alam yang perlahan mulai tergerus zaman.
Melalui perilisan karya tersebut, Syahnagra berharap musik Indonesia tidak sekadar menjadi hiburan, tetapi juga mampu menghadirkan kesadaran tentang pentingnya menjaga alam dan menghormati kekayaan budaya Nusantara.
“Alam adalah bagian penting dalam kehidupan. Kebesaran Indonesia lahir dari alamnya, dari hutan, sungai, dan seluruh kekayaan Nusantara. Itu harus bisa dinyanyikan dengan hebat oleh musisi Indonesia,” pungkasnya. (Nix/Foto: Istimewa/Dok.)
Discover more from Patroli Borgol
Subscribe to get the latest posts sent to your email.

